Sabar Syukur dan Cinta


 

  • Rasulullah SAW, bersabda:“Demi Dzat yang aku ada ditanganNya, sungguh kamu sekalian tidak akan masuk syurga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Bukankah aku sudah tunjukkan kepadamu pada sesuatu bila kalian melakukannya maka kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian. (Hr. Muslim, Abud Dawud dan Tirmidzy)

 

  • “Emas diolah dengan api, sedangkan hamba yang saleh diolah dengan cobaan.”

 

  • Sebagian Ulama mengatakan,: “Orang yang beribadah di hamparan nikmat lebih utama dibanding orang yang beribadah di hamparan cobaan. Karena posisi syukur itu lebih utama dibanding posisi sabar. Sebab syukur pada nikmat adalah taat di hamparan sukses, sedangkan sabar terhadap kepedihan adalah taat di hamparan kesibukan permasalahan.

 

  • Sebagian Ulama mengatakan: “Orang yang menyembah Allah di hamparan cobaan lebih utama ketimbang menyembah Allah di hamparan nikmat, sebab Nabi Saw,  lebih utama disbanding yang lain, maka Allah Swt, menguji umumnya mereka dengan berbagai cobaan dan bencana. Nabi Saw, bersabda: “Cobaan paling pedih adalah cobaan para Nabi.”

 

  • Allah Swt, mewajibkan orang yang bersyukur untuk terus bertambah nikmat. Sedangkan Allah memberikan kepada yang sabar adalah pahala kesabaran tiada hingga. “Sesungguhnya Allah memberi balasan pahala orang-orang yang sabar tanpa batas,.”

 

  • Allah Swt memberi wahyu kepada  seorang Nabi AS, “Sesungguhnya Aku telah memastikan di Ummul Kitab, bahwa sesungguhnya Aku bila mencintai seorang hamba, maka Kujadikan ujian sebagai arah tujuan, dan Aku pakaikan baju kefakiran padanya.”

 

  • Dikisahkan, Dzun Nuun al-Mishry ra mendengar orang yang sedang sakit berkata, Akh… Akhh…!”. Lalu Dzun Nuun mengatakan, “Ini tidak benar dalam cintanya.”. Orang sakit itu menjawab, “Keluhanku ini karena  saking lezatnya, bukan dari keluhan kepedihan.”

 

  • Fath al-Maushily ra, pernah sakit demam, lalu beliau sholat seribu rekaat sebagai syukur kepada Allah atas demamnya,. Ia malah berkata, “Apakah seperti aku ini yang diingat oleh Allah dari atas ArasyNya? Sedangkan Dia Maha Tahu bahwa aku ini banyak dosa, padahal Dia ingin kesucianku.”

 

  • Rabi’ah ra menegaskan, “Aku tak pernah melihat cobaan sejak aku mengenal Allah Ta’ala.”

 

  • Yahya bin Mu’adz ra,  dalam munajatnya mengatakan: “Ilahi, bila aku mengenalMu, sesungguhnya Engkau telah memberi petunjuk padaku. Jika aku mencariMu, sesungguhnya karena Engkau menghendakiKu. Jika aku datang kepadaMu, sesungguhnya Engkau memilihku. Jika aku taat padaMu, sesungguhnya karena Engkau memberi taufiq kepadaku. Dan jika  aku kembali kepadaMu, itu karena Engkau menghampiriku.”

 

  • Diriwayatkan bahwa Nabi Musa as telah bermunajat: “Oh Tuhan, bagaimana caraku bersyukur atas nikmat-nikmatMu,  sedangkan setiap rambut yang tumbuh saja ada dua nikmat?”. Allah swt menjawab: “Wahai Musa! Bila engkau tahu bahwa dirimu sangat  tak berdaya bersyukur kepadaKu,  sesungguhnya engkau benar-benar telah bersyukur kepadaKu….”

 

  • Diriwayatkan oleh Ummu Habibah ra, ia berkata, bahwa Rasulullah saw, bersabda: “Tak seorang pun hamba yang muslim, sholat lillahi Ta’ala setiap hari dua belas rekaat, sholat sunnah, bukan sholat fardlu, kecuali Allah membangunkan rumah di dalam syurga.” (Hr. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’y).

 

  • Qalbu itu ibarat istana, dan ma’rifat adalah rajanya, akal adalah menterinya. Lisan sebagai penerjemah, sedangkan rahasia batinnya dari khazanah Ar-Rahman. Masing-masing konsisten dengan posisinya, sedangkan arah seluruhnya adalah istiqomahnya sirr bersama Allah swt.

 

  • Bila Sirr istiqomah, maka ma’rifat menjadi istiqomah, lalu akal menjadi lurus. Bila akal konsisten, qalbu akan konsisten. Bila qalbu konsisten, jiwa akan konsisten. Bila nafsu konsisten (dalam pengendalian), perilaku batin akan konsisten. Sirr dicahayai oleh Sifat Jamal dan JalalNya. Akal dicahayai oleh cahaya kesadaran dan renungan pelajaran. Qalbu dicahayai oleh cahaya rasa takut dan cinta disertai kontemplasi fikiran.

 

  • Ada seseorang sedang masuk dalam tempat Syeikh Sary as-Saqathy,  lantas lelaki itu bertanya, “Manakah yang bisa mendekatkan pada Allah Ta’ala, hingga sang hamba bisa mendekat kepadaNya?”. Maka As-Sary menangis, lalu berkata, “Orang seperti anda ini masih bertanya seperti itu? Yang paling utama cara mendekatkan hamba kepada Allah Subhanahu wa-Ta’ala,  hendaknya Allah swt, muncul di hatimu, dan anda tidak mau sama sekali pada dunia dan akhirat, kecuali hanya padaNya.”

 

  • Ibrahim bin Adham ra mengatakan, “Puncak dari hasrat dan citaku dalam hubunganku dengan Allah Ta’ala adalah, hendaknya Dia menjadikan diriku condong terus kepadaNya, hingga aku tak memandang apa pun selain Dia,  dan aku tidak sibuk dengan siapa pun selain sibuk denganNya, aku tak peduli Dia jadikan diriku jadi debu, atau hilang sama sekali.”

 

  • Nabi Ibrahim as, pernah ditanya, “Dengan cara apa anda dapatkan keakraban dengan Allah Ta’ala?” “Dengan memutuskan diriku hanya kepada Tuhanku, dan pilihanku kepadaNya dibanding lainNya, serta aku tidak pernah makan kecuali bersama tamuku.”

 

  • Rabi’ah al-Bashriyah ra mengatakan : “Oh Tuhanku, hasratku di dunia dan di akhirat nanti hanya mengingatmu, dan hasratku di akhirat dari akhirat hanya memandangMu, maka lakukanlah antara keduanya sekehendakMu.”

 

  • Abu Yazid al-Bisthamy ra menegaskan, “Rahasia batinku naik menuju Allah swt, lalu terbang dengan sayap ma’rifat dengan cahaya kecerdasan di cakrawala Wahdaniyah (KemahatunggalanNya). Tiba-tiba nafsu menghadapku dan berkata, “Kemana kau pergi? Akulah nafsumu dan engkau harus bersamaku.” Namun rahasia batinku (sirr) sama sekali tidak  menoleh padanya. Kemudian makhluk-makhluk lain menghadap sirrku, mereka bertanya, “Kemana kau pergi? Kami adalah teman dan tempat curhatmu, engkau harus bersama kami, demi solidaritas padamu!” Sirrku sama sekali tidak menoleh. Lantas syurga dengan segenap isinya menghadap sirrku, mereka bertanya, “Kemana engkau pergi? Engkau itu bagiku dan engkau harus di sini denganku.” Maka sirrku sama sekali tidak berpaling. Lalu anugerah dan pemberian menghadapku, begitu juga karomah-karomah, hingga melewati kerajaanNya, sampai pada kemah Fardaniyah (KetunggalanNya), lantas melampaui universalitas dan keakuan, hingga sirrku sampai di hadapan Allah swt. Dialah yang kucari!”

 

  • Allah swt berfirman kepada Nabi Musa as, “Wahai Musa! Sesungguhnya orang yang menjumpaiKu pasti tidak akan kembali dariKu, dan tidak akan kembali kecuali dari Jalan (lurusKu).”

 

  • Abul Abbas nin Atha’ ra,  mengatakan, “Manakala akhirat muncul dalam diri hamba, dunia menjadi sirna di sisinya, sehingga sang hamba hanya menetap di negeri keabadian. Namun manakala sang hamba berada dalam penyaksian Allah Ta’ala, segala hal selain Allah Ta’ala sirna, dan hamba abadi bersama Allah swt.”

 

  • Ada lelaki di hadapan Abu Yazid  ra, berkata, “Ada informasi sampai kepadaku bahwa engkau punya Ismul A’dzom, sangat senang jika engkau mengajariku.” Abu Yazid menjawab, “Nama Allah itu tidak terbatas. Namun kosongkan hatimu hanya bagi KemahaesaanNya, meninggalkan berpaling pada selain Allah Ta’ala. Jika anda bisa demikian, raihlah Ism (Nama) mana pun yang kau kehendaki, maka dengan Isim itu anda bisa pergi dari timur hingga barat, dalam sekejap dan anda telah kembali.”

 

  • Dzun Nun al-Mishry ra, mengatakan, “Ketika aku naik haji, tiba-tiba ada anak muda mengatakan : “Oh Tuhanku, aku telah mengumpulkan tebusanMu, dan engkau Maha Tahu, lalu apa yang Engkau berlakukan pada mereka?”. Lalu kudengar suara : “TebusanKu banyak, dan yang mencariKu sedikit.” Sebagian Sufi ditanya, “Seberapakah antara Allah swt dan hambaNya?” “Empat langkah saja: Satu langkah meninggalkan dunia; satu langkah meninggalkan makhluk; satu langkah meninggalkan nafsu; dan satu langhkah meninggalkan akhirat, maka sang hamba sudah dihadapan Allah swt.” Jawabnya.
  • Sarry ra berkata, “Siapa yang bangkit untuk taat kepada Allah Ta’ala tanpa ada yang lain, Allah akan memberi minuman  dari mata air cinta dariNya, dan dihantar menuju tempat yang benar.”

 

  • Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah mengatakan, “Orang arif manakala keluar dari dunia tak ada pemandu di hari kiamat, tidak ada Malaikat Ridlwan di syurga, juga tidak ada Malaikat Malik di neraka.” Beliau ditanya, “Lalu dimana sang arif di jumpai?”. “Di hadapan Allah Yang Maha Diraja, di tempat yang benar. Ketika mereka bangkit dari kuburnya mereka tidak bertanya-tanya, “Mana keluarga dan anakku? Mana Jibril dan Mikail? Mana syurga dan pahala?” Namun justru berkata, “Manakah Kekasihku dan kemesraan hatiku?”

Tinggalkan Balasan