Malam Nisfu Sya’ban

Menurut Imam Ghazali, mengartikan malam nisfu sya’ban sebagai malam penuh dengan syafa’at atau pertolongan. Dan dijelaskan juga bahwa pada tanggal 13 sya’ban Allah swt memberikan sepertiga syafa’atNya kepada hambaNya ,dan pada tanggal 14 sya’ban Allah swt akan memeberikan syafa’at secara penuh kepada HambaNya. Jadi, di malam 15 sya’ban seluruh umat islam dapat mendapatkan kebaikan, syafa’at dan kemuliaan sebanyak – banyaknya sebagai penutup catatan amal selama satu tahun , karena pada malam ini semua amal akan di angkat ke langit untuk dihadapkan kepada Allah swt .

Syaikh‘Abdul Qadir al-Jailaniy berkata, “Malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang paling mulia setelah Lailatul Qodr.”

Berkata Imam Syafii rahimahullah: “Doa mustajab adalah pada 5 malam, yaitu malam Jumat, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan Rajab, dan malam Nisfu Sya’ban”

Diceritakan oleh Syaikh Ahmad Syihabuddin al-Qalyubi dalam kitabnya “al-Nawadhir” bahwa pernah Nabi Isa AS pada suatu hari jalan-jalan ke suatu bukit, tiba-tiba beliau melihat sesuatu yang aneh, sesuatu itu adalah seberkas sinar indah di atas bukit.

Beliau sangat takjub melihat sinar yang begitu indah tersebut. Saat beliau terkagum-kagum melihat seberkas sinar yang sangat indah itu, Allah SWT berfirman kepadanya, “Hai Isa maukah kamu, Aku tunjukkan sesuatu yang lebih menakjubkan dari pada apa yang kamu lihat sekarang?”.

Tentu saja Nabi Isa AS mengiyakan tawaran Allah tersebut. Tiba-tiba beliau melihatnya bahwa sinar indah itu bersumber dan keluar dari sebuah gua, maka masuklah beliau ke dalam gua itu. Setelah masuk ke dalam gua ternyata sinar indah itu bersumber dan keluar dari sebuah batu besar.

Setelah beliau mendekati batu itu, tiba-tiba batu tersebut terbelah menjadi dua, dan anehnya ternyata di dalam batu tersebut terdapat seorang yang sudah sangat tua sedang beribadah kepada Allah SWT dan Nabi Isa baru mengerti bahwa sebenarnya yang mengeluarkan sinar itu bukan batu itu namun sinar itu keluar dari badan orang tersebut.

Anehnya lagi di depan orang tua itu terdapat minuman susu segar dan buah anggur segar.

Kemudian Nabi Isa berkata, “hai orang yang beribadah dalam batu, dari bangsa manusiakah anda atau dari bangsa jin?”.

Orang tersebut menjawab: “Hai Nabi Isa, aku ini manusia biasa, bukan jin”. Nabi Isa bertambah heran, dan berkata: “Hai orang tua, dari mana kamu mengetahui kalau aku ini Nabi Isa?”.

Dia menjawab: “Ya, Nabi Isa, karena Allah telah memberitahuku bahwa tidak akan ada orang yang dapat membuka batu ini kecuali Nabi Isa”. Beliau bertanya lagi, “dari mana minuman dan buah anggur ini?”.

Ia menjawab: “ini semua dari Allah SWT. jika aku lapar maka tiba-tiba datang buah anggur di depan saya, dan bila saya haus, tiba-tiba datang minuman air susu segar di depanku”. “Hai orang tua, sudah berapa lama anda beribadah dalam batu ini?” tanya Nabi Isa. “Saya beribadah dalam batu ini sudah 400 tahun lamanya, dan selama itu pula saya tidak pernah melakukan dosa dan maksiyat”.

Jawab orang tua tersebut. Nabi Isa AS bertambah heran dan kagum terhadap orang tersebut, dan dalam hatinya ia berkata, sungguh orang ini adalah satu-satunya orang yang paling banyak pahala ibadahnya.

Kemudian beliau berkata kepada Allah: Ya Allaah, Tuhanku, masih adakah kiranya orang yang lebih baik dari pada orang ini, masih adakah orang yang pahalanya lebih banyak dari pada ibadahnya orang ini?.

Kemudian Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya salah seorang dari umat Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menjumpai bulan Sya’ban, dan ia shalat di malam Nisfu Sya’ban, itu masih lebih utama di sisi-Ku dari pada ibadahnya orang ini selama 400 tahu”. Mendengar firman Allah SWT tersebut, kemudian Nabi Isa AS berkata: “Aduh, alangkah bahagianya aku, andaikan aku jadi umatnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam”.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika malam Nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah  turun ke langit dunia dan berkata, ‘Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, adakah yang begini (2x), demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.”  (HR Ibnu Majah)

Diriwayatkan dari Siti Aisyah RA. Bercerita bahwa pada suatu malam ia kehilangan Rosululloh SAW. Ia lalu mencari dan akhirnya menemukan beliau di Baqi sedang mengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata: “sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb” (HR. Turmudzi, Ahmad dan Ibnu majah)

Diriwayatkan dari Aisyah RA berkata: “Suatu malam Rosululloh sholat, kemudian beliau bersujud panjang sehingga aku menyangka bahwa Rosululloh telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk Beliau dan ternyata masih bergerak”. Setelah Rosululloh usai beliau berkata: “Hai Aisyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak Yaa Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak karena engkau bersujud begitu lama”, lalu Beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini?”. “Rasulullah yang lebih tau”. Jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu sya’ban. Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampun, memberi kasihsayang mereka yang meminta kasihsayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (HR. Baihaqi)

15 Malam Yang Utaman:

  • 6 Hari Ramadhan (21,23,25,27,29 dan 17)

  • Hari pertama Muharram

  • Hari Asyura’

  • Hari pertama Rajab

  • Nisfu Sya’ban

  • Hari Arafah

  • 2 hari Raya

  • 27 Rajab

  • Nisfu Rajab

21 hari Utama (Untuk menyambung wirid)

  • Hari Arofah

  • Hari Asyura

  • 27 Rajab

  • 17 Ramadhan

  • Nisfu Sya’ban

  • Hari Jumat

  • 2 Hari Raya

  • 8 Hari Zulhijah (Selain Arofah, Idhul Adha)

  • 3 Hari Tasyriq

5 Hari bekerja di Dunia, tidak akan bekerja di Akherat

  • 2 hari Raya

  • Hari Jumah

  • Hari Arofah

  • Hari Asyro

(Imam Ghozali: Ihya Ulumuddin)

TUNTUNAN PARA ULAMA

Cara 1:

Di antaranya adalah dengan shalat Hajat 6 rakaat, dengan cara sebagai berikut:

Pertama shalat 2 rakaat, tiap rakaat setelah membaca surat al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas 6x, setelah salam membaca surat Yasin 1x kemudian berdoa mohon diberi umur yang berkah (doa Nisfu Sya’ban).

Kemudian berdiri lagi melakuan shalat 2 rakaat seperti semula, setelah salam membaca surat Yasin 1x kemudian berdoa mohon diberi rizki yang berkah.

Kemudian berdiri lagi melakuan shalat 2 rakaat seperti semula, setelah salam membaca surat Yasin 1x kemudian berdoa mohon diberi akhir kehidupan yang baik yakni Husnul Khatimah.

Doa malam Nisfu Sya’ban tersebut adalah sebagai berikut:

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ  أَجْمَعِينَ. اللهم يَا ذَا الْمَنِّ وَلاَ يَمُنُّ عَلَيْهِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ. يَا ذَا الطَّوْلِ وَاْلإِنْعَامِ. لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ ظَهْرَ اللاَّجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الْخَائِفِيْنَ. اللهم إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مَطْرُودًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَطَرْدِي وَاقْـِتـتَارِ رِزْقِي وَأَثْبِتْنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنَزَّلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ. يَمْحُو اللهُ مَا يَشَـآءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ. إِلَــهِي بِالتَّجَلِّي اْلأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ. الَّتِي يُفَرَّقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ وَيُبْرَمُ. اِصْرِفْ عَنِّي الْبَلاَءَ مَا أَعْلَمُ وَمَا لاَ أَعْلَمُ وَمَا أَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ وَأَنْتَ أَعْلَمُ الْغُيُوبِ. بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مَُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. آمِيْنَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Cara 2:

Sebelum membaca doa malam Nisfu Sya’ban ini, amalan yang biasa dilakukan adalah setelah shalat Maghrib membaca surat Ya Sin sebanyak 3 x.

Masing-masing diniati sebagai berikut:

Pertama: mohon agar diberi umur panjang untuk bisa melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah.

Kedua: Mohon diberi rezeki yang berkah dan halal sebagai bekal dalam beribadah kepada Allah.

Ketiga: Mohon dikuatkan imannya dan mati dalam keadaan khusnul khotimah.

Riwayat lain:

Berikut doa dan bacaan yang biasa diamalkan dimalam nisfu sya’ban.

ﺍﻟَّﻠﻬُﻢَّ ﻳَﺎ ﺫَﺍ ﺍْﻟﻤَﻦِّ ﻭَ ﻻَ ﻳُﻤَﻦُّ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻳَﺎ ﺫَﺍ ﺍْﻟﺠَﻼَﻝِ ﻭَ ﺍْلإِﻛْﺮَﺍﻡِ ﻳَﺎ ﺫَﺍ ﺍﻟﻄّﻮْﻝِ ﻭَ ﺍْلإِﻧْﻌَﺎﻡِ ﻻَ ﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻّ أَﻧْﺖَ ﻇَﻬْﺮَ ﺍﻟﻼَّﺟِﻴْﻦَ ﻭَﺟَﺎﺭَ ﺍْﻟﻤُﺴْﺘَﺠِﻴْﺮِﻳْﻦَ ﻭَ أَﻣَﺎﻥَ ﺍﻟْﺨَﺎﺋِﻔِﻴْﻦَ . ﺍﻟّﻠﻬَﻢَّ إِﻥْ ﻛُﻨْﺖَ ﻛَﺘَﺒْﺘَﻨِﻰ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﻓِﻲ أُﻡِّ ﺍْﻟﻜِﺘَﺎﺏِ ﺷَﻘِﻴًّﺎ أَﻭْ ﻣَﺤْﺮُﻭْﻣًﺎ أَﻭْ ﻣَﻄْﺮُﻭْﺩًﺍ أَﻭْ ﻣُﻘْﺘَﺮًّﺍ عَلَيَّ ﻓِﻰ ﺍﻟﺮِّﺯْﻕِ ﻓَﺎﻣْﺢُ. ﺍﻟّﻠﻬُﻢَّ ﺑِﻔَﻀْﻠِﻚَ ﻓِﻲ أُﻡِّ ﺍْﻟﻜِﺘَﺎﺏِ ﺷَﻘَﺎﻭَﺗِﻲ ﻭَ ﺣِﺮْﻣَﺎﻧِﻲ ﻭَ ﻃَﺮْﺩِﻱ ﻭَ ﺍﻗْﺘِتَﺎﺭِ ﺭِﺯْﻗِﻲْ ﻭَ أَﺛْﺒِﺘْﻨِﻰ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﻓِﻲ أُﻡِّ ﺍْﻟﻜِﺘَﺎﺏِ ﺳَﻌِﻴْﺪًﺍ ﻣَﺮْﺯُﻭْﻗًﺎ ﻣُﻮَﻓَّﻘًﺎ ﻟِﻠْﺨَﻴْﺮَﺍﺕِ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻗُﻠْﺖَ ﻭَ ﻗَﻮْﻟُﻚَ ﺍْﻟﺤَﻖُّ ﻓِﻰ ﻛِﺘَﺎﺑِﻚَ ﺍْﻟﻤُﻨَﺰَّﻝِ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﺒِﻴِّﻚَ ﺍْﻟﻤُﺮْﺳَﻞِ ﻳَﻤْﺤُﻮ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَ ﻳُﺜْﺒِﺖُ ﻭَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ أُﻡُّ ﺍْﻟﻜِﺘَﺎﺏِ. ﺍِﻟَﻬِﻲْ ﺑِﺎﻟﺘَّﺠَﻠِّﻰ ﺍْلأَﻋْﻈَﻢِ ﻓِﻲ ﻟَﻴْﻠَﺔِ ﺍﻟﻨِّﺼْﻒِ ﻣِﻦْ ﺷَﻬْﺮِ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﺍْﻟﻤُﻜَﺮّﻡَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻳُﻔْﺮَﻕُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻛُﻞُّ أَﻣْﺮٍ ﺣَﻜِﻴْﻢٍ ﻭَ ﻳُﺒْﺮَﻡُ. ﺍِﺻْﺮِﻑْ ﻋَﻨِّﻲ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺒَﻼَﺀِ ﻣَﺎ أَﻋْﻠَﻢُ ﻭَ ﻣَﺎ ﻻَ أَﻋْﻠَﻢُ ﻭَأَﻧْﺖَ ﻋَﻼَّﻡُ ﺍْﻟﻐُﻴُﻮْﺏِ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻳَﺎ أَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍَﻟِﻪِ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَ ﺳَﻠَّﻢَ . ﺍﻣﻴﻦ

“Allaahumma yaa dzal manni walaa yumannu ‘alaika yaa dzal jalaali wal ikraam, yaa dzath thauli walin’aam, laa ilaaha illaa anta, dhahral laajiin, wa jaarul mustajiiriin, wa amaanul khaa ifiin, allaahumma in kunta katabta nii ‘indaka fii ummil kitaabi syaqiyyan aw mahruuman aw mathruudan aw muqtarran ‘alayya fir rizqi, famhullaa humma bi fadllika syaqaawatii wa hirmaanii wa thardii waq titaari rizqii wa ats-bitnii indaka fii ummil kitaabi sa’iidan marzuuqan muwaffaqallil khairaat. fa innaka qulta wa qaulukal haqqu fii kitaabikal munazzali ‘alaa nabiyyikal mursali, yamhul laahumaa yasyaa u wa yutsbitu wa ‘indahuu ummul kitaab. ilaahii bittajallil aa’dhami fii lailatin nishfi min syahri sya’baanil mukarramil latii yufraqu fiihaa kullu amrin hakiim wa yubram, ishrif ‘annii minal balaa i maa a’lamu wa maa laa a’lam wa anta ‘allaamul ghuyuubi birahmatika yaa arhamar raahimiin.

Artinya: “Ya Allah, Dzat Pemilik anugrah, bukan penerima anugrah. Wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Wahai dzat yang memiliki kekuasaan dan kenikmatan. Tiada Tuhan selain Engkau: Engkaulah penolong para pengungsi, pelindung para pencari perlindungan, pemberi keamanan bagi yang ketakutan. Ya Allah, jika Engkau telah menulis aku di sisiMu di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka atau terhalang atau tertolak atau sempit rezeki, maka hapuskanlah, wahai Allah, dengan anugrahMu, dari Ummul Kitab akan celakaku, terhalangku, tertolakku dan kesempitanku dalam rezeki, dan tetapkanlah aku di sisimu, dalam Ummul Kitab, sebagai orang yang beruntung, luas rezeki dan memperoleh taufik dalam melakukan kebajikan. Sunguh Engkau telah berfirman dan firman-Mu pasti benar, di dalam Kitab Suci-Mu yang telah Engkau turunkan dengan lisan nabi-Mu yang terutus: “Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan apa yang dikehendakiNya dan di sisi Allah terdapat Ummul Kitab.” Wahai Tuhanku, demi keagungan yang tampak di malam pertengahan bulan Sya’ban nan mulia, saat dipisahkan (dijelaskan, dirinci) segala urusan yang ditetapkan dan yang dihapuskan, hapuskanlah dariku bencana, baik yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi, demi RahmatMu wahai Tuhan Yang Maha Mengasihi. Semoga Allah melimpahkan solawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau. Amin.”

Tinggalkan Balasan